M. Nuh Gabungkan Ilmu Keagamaan Dengan Teknologi

Selasa, 17 November 2009 20:50:09 - oleh : aripnur

MENDIKNAS

Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA

Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Nuh, DEA (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 17 Juni 1959; umur 50 tahun) adalah Menteri Pendidikan...

Nasional Indonesia sejak 22 Oktober 2009 untuk masa jabatan periode 2009-2014, setelah menggantikan Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA yang menjabat pada periode 2005-2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (2007–2009) dan rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya periode tahun 2003–2006.

M. Nuh adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya H. Muchammad Nabhani, adalah pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Ia melanjutkan studi di Jurusan Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan lulus tahun 1983.

M. Nuh mengawali karirnya sebagai dosen Teknik Elektro ITS pada tahun 1984. Ia kemudian mendapat beasiswa menempuh magister di Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) Montpellier, Perancis. M. Nuh juga melanjutkan studi S3 di universitas tersebut.

Nuh menikah dengan drg. Layly Rahmawati, dan ia dikaruniai seorang puteri bernama Rachma Rizqina Mardhotillah, yang lahir di Perancis.

Pada tahun 1997, M. Nuh diangkat menjadi direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Berkat lobi dan kepemimpinannya, PENS menjadi rekanan terpercaya Japan Industrial Cooperation Agency (JICA) sejak tahun 1990.

Pada tanggal 15 Februari 2003, M. Nuh dikukuhkan sebagai rektor ITS. Pada tahun yang sama, Nuh dikukuhkan sebagai guru besar (profesor) bidang ilmu Digital Control System dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika. Ia adalah rektor termuda dalam sejarah ITS, yakni berusia 42 tahun saat menjabat. Semasa menjabat sebagai rektor, ia menulis buku berjudul Startegi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (disingkat Indonesia-SAKTI).

Selain sebagai rektor, M. Nuh juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur,Pengurus PCNU Surabaya, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, Anggota Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya. M. Nuh juga dikenal sebagai seorang Kiayi, sering memberi ceramah dan khutbah jumat di berbagai masjid di Surabaya dan dikenal sebagai Ulama.

Keberanian M. Nuh yaitu menjalankan hidup ini dengan dua hal yang berbeda. Yaitu teknologi dan agama, dimana masih banyak orang berpendapat kedua hal tersebut tidak bisa dijalankan secara bersamaan.

Agama Islam itu rasional dan trans rasional. Permasalahannya, banyak guru yang belum mampu mengaitkan fenomena kealaman dengan ke Esa-an Tuhan, atau guru agama yang tidak mau membuka wawasan tentang pentingnya ilmu kealaman,jelas M. Nuh.

Untuk itu dirinya merasa prihatin masih sedikitnya umat Islam yang sadar akan pentingnya mendalami ilmu kealaman. M. Nuh melihat, ada proses panjang pemahaman masyarakat secara keseluruhan terhadap pemilahan antara ilmu keagamaan ansich dengan ilmu kealaman.

Maka, dirinya bertekad ingin menggabungkan kedua-duanya menjadi suatu keilmuan yang komprehensif dan sempurna. Alangkah bagusnya, kalau kita dapat menguasai ilmu-ilmu kealaman kemudian dikaitkan dengan fenomena ke Esa-an Tuhan. Bukankah hal itu akan semakin menambah keimanan kita, jelasnya.

Dikarenakan kemampuan dan kepribadiannya tersebutlah, maka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi menggantikan Dr Sofyan A Djalil, SH MA.

Saat itu M. Nuh mendapat pesan khusus dari Presiden. Saya diminta Presiden untuk mengembangkan Teknologi Informasi (IT) di bidang pendidikan, pemerintah (layanan publik) dan bisnis, jelasnya.

Oleh sebab itu ketika dirinya kembali diberi kepercayaan untuk menjadi Menteri Pendidikan Nasional pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (2009 s/d 2014), M. Nuh akan menerapkan empat langkah awal perbaiki pendidikan yaitu sekolah yang layak, terjangkau, berkualitas, dan adanya jaminan kepada lulusannya. Di tahun 2010 ditargetkan sudah tidak ada lagi sekolah yang rusak. (AND) -Sidiknas-

Semoga Bermanfaat

Kunjungi Juga:

Sekretariat Jenderal

Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Ditjen Pendidikan Tinggi

Badan Penelitian dan Pengembangan

Badan Independen

Ditulis Ulang Oleh:

Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA. Universitas Pendidikan Indonesia &

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, U.S.A.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Pendidikan" Lainnya